“Adat Mappacci” Pemenang I Kompetisi Film Pendek Islami Kemenag Sulsel

0
66

 

Film berjudul “Adat Mappacci” menjadi pemenang I pada ajang Kompetisi Film Pendek Islami (KFPI) yang digelar Kanwil Kementerian Agama Sulsel. Pengumuman pemenang berlangsung Selasa, 19 September 2023, di Aula Kanwil Kemenag Sulsel.

Selain Adat Mappaci (karya Randa Librianto/asal Soppeng) yang berhasil menyisikan 30 judul film lainnya, juga diumumkan pemenang kedua, dengan judul Napak Tilas Datuk Patimang dan Andi Pattiwari (Rahmat Aries/Luwu Utara), pemenang ketiga, Tradisi Adat Rongkong: Pembagian Harta Warisan Mana’ Simanai (Rahmat Aries/Luwu Utara), dan pemenang keempat (favorit), diraih film berjudul Jejak Islam di Bulukumba: Perjalanan Cinta dan Kebijaksanaan (Rahmawati/Bulukumba). Pemenang I mendapat hadiah uang tunai Rp.6 juta.

Penyerahan nama pemenang film pendek islami dengan genre film dokumenter terbaik 1 hingga 4, oleh Dewan Juri yang terdiri dari Muhammad Arief Sutisna (Akademisi dari Jakarta), Drs. Asri Hidayat Mahulauw (Budayawan Sulsel), Apt. Alwiyah Nur Syarif, M.Si (Moderat Milenial Agent) Sulsel, dan Andi Rezal Juhari (Penggiat Film Dokumenter), kepada Kabid Penaiszawa, H. Abdul Gaffar, disaksikan Kabag TU mewakili Kakanwil Kemenag Sulsel.

Ajang KFPI yang bertema “Agama dan Budaya 2023”, diikuti sebanyak 31 film. Penilaian berlangsung 18 hingga 19 September 2023. Film yang dilombakan secara keseluruhan berasal dari karya anak daerah, dari berbagai kabupaten dan kota di Sulsel.

Kabag TU dalam sambutannya, mengapresiasi kegiatan KFPI, terlebih antusiasme peserta yang telah mengirimkan karya karyanya yang menunjukkan minat para peserta, dalam memproduksi film dokumenter sangat baik, guna mendorong kreasi anak muda menghasilkan karya seni dalam bentuk film pendek sesuai dengan kearifan budaya lokal masing masing, dengan tetap mengutamakan prinsip prinsip ajaran agama.

Kabid Penaiszawa berharap, eksistensi film dokumenter yang bertema agama dan budaya dapat dipertahankan di tengah-tengah msyarakat, untuk dapat menjadi media dakwah, penyampai informasi kepada khalayak, akan pentingnya norma agama dan budaya lebih dijunjung tinggi, sebagaimana karakter dan kepribadian masyarakat.

Penyelenggara kegiatan, Wahyadi melaporkan kompetisi ini bertujuan menyiarkan agama Islam kepada masyarakat, mengembangkan, melestarikan, dan menggali potensi dalam berkreatifitas dengan menggunakan teknologi, melestarikan seni budaya serta menjaga kearifan lokal yang bernuansa Islam, meningkatkan rasa cinta dan bangga terhadap seni budaya Islam, dan memberikan kesempatan berkreatifitas, dan menyuarakan agama Islam pada generasi muda.

Dikatakan, antusiasme peserta dalam even ini terlihat meningkat, dibuktikan dengan banyaknya film yang masuk, sebanyak 31 film, dari tahun lalu hanya 10 film yang masuk.

“Meski demikian masih disayangkan karena banyak film yang masuk, tidak sesuai dengan genre film dokumenter, kebanyakan dalam bentuk fiksi. Semoga ke depan film-film yang dikirim lebih bersifat kepada dokumenter,’’ ujar Wahyadi. (sudirman)

Artikulli paraprakWisata Weda, Eksotik, Indah dan Tenang
Artikulli tjetër30 Peserta PKA PPSDM Kemendagri Visitasi di Kantor BI Sulsel
Dunia jurnalis yang ditekuninya diawali di surat kabar, Pedoman Rakyat Ujung Pandang. Saat itu, tahun 1994, dia ditantang oleh H.L.Arumahi. Kepala Desk Kota tersebut menawarinya bergabung di surat kabar tertua (terbit 1 Maret 1947), sebagai wartawan Kriminal. “Tugasmu, meliput kriminal,” pintanya suatu malam di Percetakan Surat kabar Pedoman Rakyat, Jalan Mappanyukki. Sekalipun masih kuliah si bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H.Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuheplay (keduanya almr) langsung meng-iya-kan tawaran Arumahi. Ternyata, jurnalistik membuatnya mengenal dan mengenal banyak orang, kala itu. Hanya saja, akibat manajemen, Harian Pedoman Rakyat tutup. Pria beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini pun bergabung dengan rekannya di koran Makassar. Hanya saja tidak berumur. Pernah bergabung di Tabloid Sorot. Juga tidak berumur. Pernah bergabung bersama Sultan Darampa di Majalah Profile. Tak seberapa lama, diapun dipercayakan memimpin tabloid Intim—juga milik Sultan Darampa. Terbit beberapa kali, dia berpapasan rekan Syahrir-wartawan Ujungpandang Ekspres, persis di KPU Sulawesi Selatan. Syahrir menantang saya bergabung di surat kabar grup Fajar. Lagi lagi saya meng-iya-kan. Di koran Ujungpandang Ekspres, mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-gazali—kini Universitas Islam Makassar (UIM) ini menangani Rubrik Politik. Selama dua tahun di koran berlamat di lantai 4 Graha Pena tersebut, lagi lagi dia ditawari bergabung di PT.Multi Niaga. Dia pun meninggalkan Ujungpandang Ekspres. Di perusahaan baru tersebut, dia dipercayakan sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Inspirasi. Empat tahun lebih bersama rekan rekan di lantai 5 Gedung Multiniaga, Jalan Sultan Alauddin, pemiliknya tidak sanggup melanjutkan usaha media. Bersama rekan rekannya, mereka di tawari ke bagian Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Dia menolak. Berbekal pengalaman mengelola Majalah Inspirasi, Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar di masanya itu, dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Anshor Kecamatan Tallo Kota Makassar ini pun tertantang membuat majalah sendiri. Dia mengajak Idham Khalid, rekannya sekompleks di Perumahan Taman Rianvina, Minasaupa. Keduanya, sekitar tahun 2010, membuat majalah. Namanya, Inspirasi, 48 halamnan warna. Dan, mengikuti tren, keduanya juga mendirikan website. Online Inspirasimakassar.com. Baik Majalah, maupun online tetap eksis hingga saat ini. Dan karena perkembangan itu pula, dia mendirikan lagi Online lain. Begitu cintanya kepada Pedoman Rakyat, dia menamakan online satunya itu, Pedomanku.com. Ada pula Majalah Pedoman. Di sela sela menekuni jurnalistik, dia yang menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Siri Sori Islam Kecamatan Saparua Timur-Maluku Tengah. SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon, kini Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar, juga hingga saat ini dipercayakan bergabung di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini