Ibu-Ibu Blokir Jalan, Puluhan Sopir Truk Tak Berdaya

0
71

Gowa, Pedomanku.com:

Puluhan ibu-ibu warga Kampung Bontotene, Kecamatan Bontomarannu memblokir Jalan Hamzah Daeng Tompo mengakibatkan puluhan sopir truk pengangkut material tanah timbunan harus rela parkir di sepanjang jalan tersebut.

Aksi yang tidak biasa dilakukan oleh para ibu tersebut diakui terpaksa dilakukan karena ulah para supir truk yang menurut mereka sudah keterlaluan. “Kami sebenarnya sudah lama jengkel dengan truk-truk pengangkut tanah karena sejak merek mulai beroperasi rumah kami tidak pernah lagi bersih karena banyaknya debu,” ujar Sahruni Dg Tonji di sela-sela aksi mereka, Kamis (21/9/2023).

Hal yang sama diungkapkan Dg Ngintang. Menurutnya banyaknya debu beterbangan saat truk lewat karena truk yang mengangkut tanah selalu melebihi bak sehingga terpal tidak bisa menutup semua bagian bak truk. “Truk mengangkut terlalu penuh jadi jatuh-jatuh tanahnya ini yang jadi debu,” terangnya.

“Kadang saya bercanda kepada teman-teman kalau rumah saya sudah bisa ditanami kacang hijau saking banyaknya debu,” tambahnya lagi sambil tertawa.

Dalam aksi yang berlangsung sekira 3 jam itu ibu-ibu warga Kampung Bontotete’ne, Cambaya dan Balang-balang mengajukan empat tuntutan. Mereka minta penambang menyiram jalan setiap saat dan setiap hari. Truk tidak boleh mengangkut tanah melebihi bak selanjutnya bak harus tertutup semua bagian. Kecepatan truk tidak boleh lewat 40 km perjam.

Camat Bontomarannu, Syafaat, didampingi Lurah Borongloe, Lurah Bontomanai, Babinkamtibmas Polsek Bontomarannu, dan Kepala Lingkungan setempat, langsung turun tangan menemui ibu-ibu pendemo. Dia berjanji akan segera menyelesaikan persoalan itu
“InsyaAllah secepatnya akan saya panggil semua pihak terkait untuk menyelesaikan masalah ini khususnya penanggung jawab tambang,” tegasnya.

“Saya selaku Camat Bontomarannu sangat memahami aksi ibu-ibu apalagi ini terkait kesehatan warga. Jadi sabarmi tuntutan ini akan saya kawal, kami berterima kasih karena ini masukan yang bagus dari warga,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut salah seorang warga mempertanyakan soal dugaan aktifitas tambang galian C ternyata banyak tanpa izin, Camat Bontomarannu berjanji akan menindak lanjuti. “Saya belum bisa jawab tapi akan saya pastikan dulu soal ada tidaknya izin mereka melakukan penambangan,” imbuhnya. (rir)

Artikulli paraprakGenjot Elektabilitas PSI, M.Surya Temui 60 Koordinator Desa di Bajeng
Artikulli tjetërKadis Pendidikan Kota Makassar Dampingi Tim Verifikator Kota Sehat Nasional
Dunia jurnalis yang ditekuninya diawali di surat kabar, Pedoman Rakyat Ujung Pandang. Saat itu, tahun 1994, dia ditantang oleh H.L.Arumahi. Kepala Desk Kota tersebut menawarinya bergabung di surat kabar tertua (terbit 1 Maret 1947), sebagai wartawan Kriminal. “Tugasmu, meliput kriminal,” pintanya suatu malam di Percetakan Surat kabar Pedoman Rakyat, Jalan Mappanyukki. Sekalipun masih kuliah si bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H.Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuheplay (keduanya almr) langsung meng-iya-kan tawaran Arumahi. Ternyata, jurnalistik membuatnya mengenal dan mengenal banyak orang, kala itu. Hanya saja, akibat manajemen, Harian Pedoman Rakyat tutup. Pria beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini pun bergabung dengan rekannya di koran Makassar. Hanya saja tidak berumur. Pernah bergabung di Tabloid Sorot. Juga tidak berumur. Pernah bergabung bersama Sultan Darampa di Majalah Profile. Tak seberapa lama, diapun dipercayakan memimpin tabloid Intim—juga milik Sultan Darampa. Terbit beberapa kali, dia berpapasan rekan Syahrir-wartawan Ujungpandang Ekspres, persis di KPU Sulawesi Selatan. Syahrir menantang saya bergabung di surat kabar grup Fajar. Lagi lagi saya meng-iya-kan. Di koran Ujungpandang Ekspres, mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-gazali—kini Universitas Islam Makassar (UIM) ini menangani Rubrik Politik. Selama dua tahun di koran berlamat di lantai 4 Graha Pena tersebut, lagi lagi dia ditawari bergabung di PT.Multi Niaga. Dia pun meninggalkan Ujungpandang Ekspres. Di perusahaan baru tersebut, dia dipercayakan sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Inspirasi. Empat tahun lebih bersama rekan rekan di lantai 5 Gedung Multiniaga, Jalan Sultan Alauddin, pemiliknya tidak sanggup melanjutkan usaha media. Bersama rekan rekannya, mereka di tawari ke bagian Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Dia menolak. Berbekal pengalaman mengelola Majalah Inspirasi, Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar di masanya itu, dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Anshor Kecamatan Tallo Kota Makassar ini pun tertantang membuat majalah sendiri. Dia mengajak Idham Khalid, rekannya sekompleks di Perumahan Taman Rianvina, Minasaupa. Keduanya, sekitar tahun 2010, membuat majalah. Namanya, Inspirasi, 48 halamnan warna. Dan, mengikuti tren, keduanya juga mendirikan website. Online Inspirasimakassar.com. Baik Majalah, maupun online tetap eksis hingga saat ini. Dan karena perkembangan itu pula, dia mendirikan lagi Online lain. Begitu cintanya kepada Pedoman Rakyat, dia menamakan online satunya itu, Pedomanku.com. Ada pula Majalah Pedoman. Di sela sela menekuni jurnalistik, dia yang menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Siri Sori Islam Kecamatan Saparua Timur-Maluku Tengah. SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon, kini Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar, juga hingga saat ini dipercayakan bergabung di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini