Tak Mampu, BAZNAS Lunasi Biaya Rumah Sakit Penderita TB

0
66

Makassar, Pedomanku.com:

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar melunasi biaya rumah sakit Anwar Dg Romo. Warga  Jalan Dahlia, Lorong 312 No 27, Kelurahah Bontorannu, Kecamatan Mariso, Makassar ini menderita penyakit TB. Besaran biaya yang diluasi Rp4 juta.

Anwar Dg. Romo yang sehari harinya bekerja sebagai tukang parkir, dan serabutan ini tidak mampu membayar biaya rumah sakit setelah dirawat di Rumah Sakit Haji Makassar. Di rumah sakit yang sama, pekan lalu, BAZNAS juga telah meluasi biaya rumah sakit kepada pasien atas nama Muh.Habibie Ramadhan.

“Jadi, setelah kami menerima laporan warga menyangkut ketidakmampuan Anwar Dg Romo membayar biaya rumah sakit, maka kami langsung mengecek secara langsung, pasein ini benar benar tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Ternyata, benar,” ujar Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat nasional (BAZNAS) Kota Makassar, H.Jurlan Em Saho’as di depan kasir pembayaran Rumah Sakit Haji Makassar, Senin, 15 Januari 2024.

Bersama ketua RT

H.Jurlan Em Saho’as mengemukakan, setelah di rumah sakit haji, pihaknya didampingi staff bidang II BAZNAS Makassar, Nabil Salim, juga mengecek rumah Anwar Dg.Romo.

Ternyata kondisi Anwar Dg Romo tinggal di gubuk reot . Dia tinggal sendirian dalam keadaan sakit. Gubuk yang dibangun itu di atas tanah milik orang lain. Biasanya, warga sekitar yang sesekali membawa makanan kepadanya.

Setelah melihat kondisi tempat tinggal dan keadaan fisik Anwar Daeng Romo, H.Jurlan yang juga jurnalis dan seniman ini langsung memberikan satu paket sembako.

“Kami akan berupaya agar bapak Anwar Daeng Romo dapat diusulkan mendapatkan bantuan bulanan dari BAZNAS Makassar,” ujarnya.

 

Di bagian lain urai penyair Indonesia yang berhasil masuk “Top 10” juara lomba tulis puisi dan Cerpen 2023 tingkat nasional yang diselenggarakan komunitas Literasi kita Indonesia lewat karya puisinya berjudul “Iqra atas nama Allah” ini menambahkan, selain biaya kesehatan, lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di jalan Teduh Bersinar Nomor 5 Makassar ini juga memiliki sederet program unggulan yang akan dilaksanakan tahun 2024 ini.

Di antaranya, Bantuan Operasional Dhuafa Produktif kepada UMKM, bantuan bulanan berupa dana, beras, dan kebutuhan lainnya. Bantuan pendidikan, kesehatan, dan lainnya yang betul betul masuk dalam golongan orang yang berhak menerima zakat, atau asnaf.

“Bantuan modal kepada UMKM ini tentunya didahului asesmen oleh tim. Bantuan ini tanpa pengembalian, alias diberikan secara cuma cuma. Besarannya lumayan besar. Bantuan cuma cuma diberikan, lantaran BAZNAS Makassar melihat kurang majunya pelaku UMKM, selain minim kemampuan mengelola usaha, juga di antara pengusaha kecil sering menjatuhkan pilihan kepada rentenir. Karena pinjaman modal dari rentenir itulah, sehingga usaha mereka tidak berkembang, lantaran selalu memikirkan mengembalikan pinjaman dengan bunga yang cukup tinggi. Jika proses itu terus dilakukan, tentunya UMKM ini hanya memperkaya rentenir,” jelasnya, di ruang kerjanya, saat dikofirmasi media ini, Selasa, 16 Januari 2024.

Sepeda yang digunakan mencari sesuap nasi

Sebelum menutup pembicaraan, H.Jurlan mengakui, seluruh program yang dilaksanakan BAZNAS Kota Makassar bertumpu pada delapan asnaf penerima manfaat zakat muilai dari fakir –mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup, dan miskin–mereka yang memiliki harta, namun tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar hidup.

Ada pula amil–mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, mu’allaf–mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah. Lainnya adalah, hamba sahaya–budak yang ingin memerdekakan dirinya, gharimin–mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya,serta fisabilillah–mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya, dan ibnu sabil–mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.

“Sekadar diketahui, seluruh program yang dikerjakan BAZNAS Makassar tidak terlepas dari Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) dari berbagai elemen kaum muslimin di Kota Makassar dan sekitarnya,” tutupnya. (din pattisahusiwa-tim media baznas kota makassar)

Artikulli paraprakWalikota Makassar : Peran RT/RW Sangat Penting
Artikulli tjetërBupati Maros Buka Workshop Penguatan Transisi PAUD Ke SD
Dunia jurnalis yang ditekuninya diawali di surat kabar, Pedoman Rakyat Ujung Pandang. Saat itu, tahun 1994, dia ditantang oleh H.L.Arumahi. Kepala Desk Kota tersebut menawarinya bergabung di surat kabar tertua (terbit 1 Maret 1947), sebagai wartawan Kriminal. “Tugasmu, meliput kriminal,” pintanya suatu malam di Percetakan Surat kabar Pedoman Rakyat, Jalan Mappanyukki. Sekalipun masih kuliah si bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H.Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuheplay (keduanya almr) langsung meng-iya-kan tawaran Arumahi. Ternyata, jurnalistik membuatnya mengenal dan mengenal banyak orang, kala itu. Hanya saja, akibat manajemen, Harian Pedoman Rakyat tutup. Pria beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini pun bergabung dengan rekannya di koran Makassar. Hanya saja tidak berumur. Pernah bergabung di Tabloid Sorot. Juga tidak berumur. Pernah bergabung bersama Sultan Darampa di Majalah Profile. Tak seberapa lama, diapun dipercayakan memimpin tabloid Intim—juga milik Sultan Darampa. Terbit beberapa kali, dia berpapasan rekan Syahrir-wartawan Ujungpandang Ekspres, persis di KPU Sulawesi Selatan. Syahrir menantang saya bergabung di surat kabar grup Fajar. Lagi lagi saya meng-iya-kan. Di koran Ujungpandang Ekspres, mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-gazali—kini Universitas Islam Makassar (UIM) ini menangani Rubrik Politik. Selama dua tahun di koran berlamat di lantai 4 Graha Pena tersebut, lagi lagi dia ditawari bergabung di PT.Multi Niaga. Dia pun meninggalkan Ujungpandang Ekspres. Di perusahaan baru tersebut, dia dipercayakan sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Inspirasi. Empat tahun lebih bersama rekan rekan di lantai 5 Gedung Multiniaga, Jalan Sultan Alauddin, pemiliknya tidak sanggup melanjutkan usaha media. Bersama rekan rekannya, mereka di tawari ke bagian Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Dia menolak. Berbekal pengalaman mengelola Majalah Inspirasi, Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar di masanya itu, dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Anshor Kecamatan Tallo Kota Makassar ini pun tertantang membuat majalah sendiri. Dia mengajak Idham Khalid, rekannya sekompleks di Perumahan Taman Rianvina, Minasaupa. Keduanya, sekitar tahun 2010, membuat majalah. Namanya, Inspirasi, 48 halamnan warna. Dan, mengikuti tren, keduanya juga mendirikan website. Online Inspirasimakassar.com. Baik Majalah, maupun online tetap eksis hingga saat ini. Dan karena perkembangan itu pula, dia mendirikan lagi Online lain. Begitu cintanya kepada Pedoman Rakyat, dia menamakan online satunya itu, Pedomanku.com. Ada pula Majalah Pedoman. Di sela sela menekuni jurnalistik, dia yang menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Siri Sori Islam Kecamatan Saparua Timur-Maluku Tengah. SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon, kini Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar, juga hingga saat ini dipercayakan bergabung di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini