Wisata Weda, Eksotik, Indah dan Tenang

0
102

Bukan rahasia lagi jika Halmahera Tengah adalah Kabupaten dengan potensi wisata yang cukup baik di Maluku Utara. Kabupaten beribukota Weda ini sering dijadikan ikon pariwisata untuk menggaet wisatawan datang ke sana.

Kabupaten Halmahera Tengah, memiliki sejumah obyek wisata mengangumkan. Kabupaten beribukota Weda ini berada di Provinsi Maluku Utara terdapat 37 pulau. Di antaranya yang berpenghuni adalah Pulau Gebe dan Yoi.

Potensi pariwisata Weda tidak menjadi rahasia  lagi. Makanya, menjelang magrib, 8 Februari 2020, saya memilih shalat di masjid Darussalam, Kota Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Jika tidak salah, imam shalat saat itu adalah Drs.Rustam (Asisten I Pemerintahan dan Kemasyarakatan) di kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi maluku Uetara tersebut. Usai shalat, saya, bersama keluarga Jamadi, Bas, dan Basir ke pelabuhan yang menghubungkan Kota Weda dengan kecamatan lain, misalnya Patani, Pulau Gebe, bahkan Sorong Papua.

Tak jauh dari pelabuhan ini terlihat pulau kecil tak berpenghuni. Pulau Imam. Soal pulau imam itu, pada Sabtu malam (8 Februari 2020), Bas—anak menantu saya– memberi sedikit penjelasan, jika pulau kecil yang indah pas di depan Kota Weda itu hanyalah untuk kuburan bagi penduduk setempat.

Di malam panjang itu,  bertepatan bulan berada di atas pulau Imam. Sekalipun terkesan seram, namun tiba tiba muncul keinginan ke pulau yang luasnya sekitar 3 hektar tersebut malam itu. Apalagi, selain menjadi  salah satu spot wisata eksotis, indah dan tenang, di pulau ini juga dikelilingi hamparan pasir putih yang indah. Apalagi ada bukit  ‘jere Koleyevo’. Orang menyebut sebagai ‘keramat’. Untuk mencapai puncak bukit ini, harus menaiki sebanyak 99 anak tangga. Angka 99 diartikan sebagai asmaul husna.

Keesokan harinya, Ahad 9 Februari di kabupaten yang menjunjung tinggi falsafah Fagogoru—falsafah hidup masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah yang senantiasa mencerminkan kearifan lokal–local genius (Ngaku Rasai, Budi Bahasa, Sopan re Hormat, Mtat re Mimoi ) yang mencirikan saling menghormati, menyayangi, ramah lingkungan.

Termasuk, taat kepada hukum, toleransi antara sesama, solidaritas sosial yang kuat serta menghargai nilai – nilai yang berkembang dalam masyarakat dengan mengukuhkan sikap terbuka kepada semua pihak untuk hidup berkembang tanpa diskriminatif. Sekaligus simbol budaya, untuk mengapresiasikan rasa sayang, rasa memiliki, rasa saling menjaga/merawat dari ketiga negeri yakni Maba, Patani, dan Weda. Kami sekeluarga menuju Desa Nusliko. Jaraknya dari Kota Weda hanya 1,5 km.

Di desa ini, ada obyek wisata yang sementara dibangun Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Tengah. Namanya, Delek Were Nusliko Park. Kawasan ini berpadu dengan pantai cantik dan hutan bakau. Cakupannya, hingga ke pantai bagian selatan dengan hamparan pasir pantai yang indah. Pemandangan lepas di sini menuju Samudera Pasifik.

Menurut Bas, Nusliko Park bakal menjadi primadona, sekaligus semacam ruang terbuka hijau seperti hutan kota. Di sini juga satu simpul dengan Goa Boki Maruru—kisah seorang putri yang menghanyutkan diri. Jika berada di Goa ini dapat  menikmati keindahan dan keunikannya. Sebab, dalam goa yang bakal masuk Geopark Nasional ini sangat hening, bahkan menguji andrenalin. Airnya bening dengan kedalaman bervariasi, 1-4 meter. Di dalam goa ini juga pengunjung akan disambut nyayian burung yang indah.

Di kawasan Nusliko Park, terlihat gapura-gapura baru dan perahu kecil. Jadi semakin instagramble untuk  anak-anak muda, hingga orang tua. Nusliko Park  mempunyai keindahan yang membuat takjub. Ditambah suasana alam yang ramah, disertai lokasi yang strategis, menjadi incaran wisatawan.

Setelah berpuas diri di Nusliko Part, kami bermaksud ke wisata agrobisnis Wayroro. Di Wayroro ini begitu istimewa. Nuansa alam pedesaan yang dipenuhi hijaunya rumput, membuat terasa tenang dan damai. Tempat ini cukup jauh dari bising mesin kendaraan bermotor dan tentunya jauh juga dari polusi.

Hanya saja, karena ‘kampung tengah’ mulai keroncongan, kami memilih singgah di pantai yang masih di wilayah hukum  Desa Nusliko. Kami habisi bekal di pantai yang indah ini. Pantai dengan air yang jernih, ditambah lambaian nyiur membuat nyaman dan kepingin berlama lama di sini.

Di atas pasir ini, terlihat nuansa alam yang indah. Deburan ombak yang tenang membuat Almira Rifda Syawal–anak Sary lebih leluasa menikmatinya dengan suka ria. Dia terlihat gembira. Dia berenang. Berlarian. Melompat kegirangan. Dia bermain pasir sambil berbicara sendiri. Sesekali, kami berteriak mengingatkannya agar jangan terlalu kejauhan.

Pantai Nusliko dengan keramahtamahannya seakan menghipnotis kami berlama lama. Pantai dengan ombak yang tenang membuat kami betul betul menikmatinya. Pasirnya yang halus mempercantik suasana, dipadu  luasnya pantai yang tak terbatas pandangan mata.

Deburan ombak yang tenang dan bergulung kecil membuat hati ingin merasakan sejuknya susana tersebut. Keramahtamahan suasana pantai ini akan menghipnotis  saya untuk tidak berkedip melihat berbagai pemandangan. Makanya, terbetik dalam hati, kepingin merasakan sejuknya pantai ini kedua kalinya.

Kami menuju kawasan agrowisata Wairoro. Kami menuju kebun buah naga. Ada pula buah semangka, jeruk dan tomat. Sari membeli semangka. Sebagian kami makan, sebagian dibawa pulang sebagai oleh oleh ke Tidore dan Makassar.

Dulunya di lokasi ini adalah persawahan milik transmigrasi asal Jawa. Di sepanjang perjalanan ke Wairoro, udaranya sejuk, karena hamparan warna hijau di mana-mana, membuat kami merasa damai dan tenang. Di kiri kanan jalanan beberepa ekor sapi merumput. Menjelang sore kami kembali ke Kota Weda.

Sebenarnya, saya kepingin berlama lama di kabupaten bervisi “Halmahera Tengah maju, sejahtera berlandaskan falsafah Fagogoru” itu untuk menjelajah berbagai destinasi. Misalnya, Pantai Patamdi yang mempunyai keindahan laut dengan suasana alam yang ramah dan perbukitan.

Ada pula Pantai Kupa-Kupa, Tanjung Bongo, ke pulau Oto, atau ke Batu Dua. Sebab, usai shalat subuh, Senin, 10 Februari Bas mengantar kami empat bersaudara yang tak lain mertua mertuanya (saya, Hj.Maryam, Baharjan, dan Jamadi) menuju pelabuhan Loleo. Dari pelabuhan kayu ini kami menggunakan speed boat ke pelabuhan Goto di Tidore. (din pattisahusiwa)

Artikulli paraprakBudidaya Jamur Beromzet Belasan Juta
Artikulli tjetër“Adat Mappacci” Pemenang I Kompetisi Film Pendek Islami Kemenag Sulsel
Media Pedomanku
Dunia jurnalis yang ditekuninya diawali di surat kabar, Pedoman Rakyat Ujung Pandang. Saat itu, tahun 1994, dia ditantang oleh H.L.Arumahi. Kepala Desk Kota tersebut menawarinya bergabung di surat kabar tertua (terbit 1 Maret 1947), sebagai wartawan Kriminal. “Tugasmu, meliput kriminal,” pintanya suatu malam di Percetakan Surat kabar Pedoman Rakyat, Jalan Mappanyukki. Sekalipun masih kuliah si bungsu dari tujuh bersaudara pasangan H.Yahya Pattisahusiwa dan Hj.Saadia Tuheplay (keduanya almr) langsung meng-iya-kan tawaran Arumahi. Ternyata, jurnalistik membuatnya mengenal dan mengenal banyak orang, kala itu. Hanya saja, akibat manajemen, Harian Pedoman Rakyat tutup. Pria beristrikan Ama Kaplale,SPT,MM dan memiliki dua orang anak masing-masing Syasa Diarani Yahma Pattisahusiwa dan Muh Fauzan Fahriyah Pattisahusiwa ini pun bergabung dengan rekannya di koran Makassar. Hanya saja tidak berumur. Pernah bergabung di Tabloid Sorot. Juga tidak berumur. Pernah bergabung bersama Sultan Darampa di Majalah Profile. Tak seberapa lama, diapun dipercayakan memimpin tabloid Intim—juga milik Sultan Darampa. Terbit beberapa kali, dia berpapasan rekan Syahrir-wartawan Ujungpandang Ekspres, persis di KPU Sulawesi Selatan. Syahrir menantang saya bergabung di surat kabar grup Fajar. Lagi lagi saya meng-iya-kan. Di koran Ujungpandang Ekspres, mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-gazali—kini Universitas Islam Makassar (UIM) ini menangani Rubrik Politik. Selama dua tahun di koran berlamat di lantai 4 Graha Pena tersebut, lagi lagi dia ditawari bergabung di PT.Multi Niaga. Dia pun meninggalkan Ujungpandang Ekspres. Di perusahaan baru tersebut, dia dipercayakan sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Inspirasi. Empat tahun lebih bersama rekan rekan di lantai 5 Gedung Multiniaga, Jalan Sultan Alauddin, pemiliknya tidak sanggup melanjutkan usaha media. Bersama rekan rekannya, mereka di tawari ke bagian Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Dia menolak. Berbekal pengalaman mengelola Majalah Inspirasi, Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Siri Sori Islam (IPPSSI) Makassar di masanya itu, dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Anshor Kecamatan Tallo Kota Makassar ini pun tertantang membuat majalah sendiri. Dia mengajak Idham Khalid, rekannya sekompleks di Perumahan Taman Rianvina, Minasaupa. Keduanya, sekitar tahun 2010, membuat majalah. Namanya, Inspirasi, 48 halamnan warna. Dan, mengikuti tren, keduanya juga mendirikan website. Online Inspirasimakassar.com. Baik Majalah, maupun online tetap eksis hingga saat ini. Dan karena perkembangan itu pula, dia mendirikan lagi Online lain. Begitu cintanya kepada Pedoman Rakyat, dia menamakan online satunya itu, Pedomanku.com. Ada pula Majalah Pedoman. Di sela sela menekuni jurnalistik, dia yang menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Siri Sori Islam Kecamatan Saparua Timur-Maluku Tengah. SMP Negeri 2 Ambon, dan SPP-SPMA Negeri Ambon, kini Humas Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM) Pusat Makassar dan Wakil Sekjen Kerukunan Keluarga Maluku (KKM) Makassar, juga hingga saat ini dipercayakan bergabung di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini